Addiction to Positive Habit, Should I?

" Yawning in the morning with stress face "

It’s already morning again! Kenapa secepat ini sih? Ah, aku kan baru tidur sebentar! Gerutuan khas bagi kebanyakan orang ketika menghadapi sinar mentari yang mulai menampakkan rona cerianya di ufuk timur. Semburat sinar mentari seringkali dibarengi dengan raut muka cemberut yang menunjukkan ketidakpuasan. Memulai hari dengan keluhan adalah ide paling baik untuk menghancurkan hari tersebut, dan memang sangat sering dilakukan!

Terkadang memang sangat sulit untuk dapat berfikir positif saat mata terbangun dari tidur, terutama ketika quota waktu tidur belum mencukupi keinginan. Tapi, apakah itu dapat menjadi alasan untuk menanamkan keluhan sebagai kebiasaan dalam hidup? Berbagai macam penelitian membuktikan bahwa “repetition is the best way to have a grip on everything. Just like riding motorcycle, once you master it, almost impossible to forget it.” Artinya bahwa entah itu positif atau negatif, ketika itu rutin dilakukan, it will be your habit whether you like it or not. Lalu kenapa bangun pagi harus diwarnai dengan muka kecut dan cemberut?

“It’s the repetition of affirmatives that leads to belief. And once that belief becomes a deep conviction, things begin to happen”

-Muhammad Ali, World Champion Boxer-

Ada dua orang tipikal di dunia ini menurut konteks perspektif, yaitu orang yang selalu memandang kehidupan adalah karunia, dan orang yang memandang segala sesuatu adalah bencana.. Pernahkah ada yang mempunyai teman, saudara, keluarga yang setiap harinya menghabiskan waktunya dengan mengeluh? Ada pulakah orang yang selalu bersemangat dan bergairah walaupun saat itu kantong kosong, kurang tidur, atau bahkan makan pun susah? Aku yakin pasti masing-masing dari kita mengenal atau minimal pernah bertegur sapa dengan orang dari masing-masing kelompok.

Sayangnya, mayoritas orang adalah tipe kedua, yaitu orang-orang yang penuh dengan negatifisme dan bersudut pandang gelap terhadap hampir semua bidang dalam kehidupan. Jujur, apakah kamu pernah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri? Atau kamu mencari pelarian atas kesalahan yang telah kamu lakukan? Itu dilakukan semata-mata karena manusia ingin rasa aman. Keinginan menciptakan rasa aman itu dimanifestasikan dengan mencari kambing hitam, mencari alasan, dan menghindari kesakitan. Demi rasa nyaman dan terbebas dari perasaan bersalah, manusia terkadang rela mencari apapun yang bisa digunakan untuk menghilangkan kepedihan yang ia rasakan.

Sebaliknya, orang-orang yang selalu memandang segala sesuatu adalah karunia, seperti Albert Einstein berkata “kamu dapat memilih untuk memandang segala sesuatu di dunia ini terjadi karena keajaiban, atau tidak ada keajaiban sama sekali dan semua itu biasa saja”, merupakan kaum minoritas yang seringkali adalah orang-orang besar yang bertengger di puncak perusahaan, entrepreuner top, world class athlete, dan orang-orang sejenis. Apalagi, orang-orang tersebut jumlahnya hanya 10% namun menguasai 90% perputaran uang yang ada di dunia. WTF?! Tidak, itu bukan sebuah manipulasi atau kesalahan sistem. Pada dasarnya, orang-orang berpandangan positif, penuh gairah, semangat, dan keceriaan akan menghadapi segala sesuatunya dengan senang. Halangan dan kesulitan hidup seperti apapun tidak akan pernah mereka hindari, namun mereka pandang bahwa kehidupan itu taman bermain yang selalu memberikan tawaran keindahan dan kebahagiaan bagi semua orang.

always think big

Pembuatan pesawat terbang pun tidak lepas dari pemasangan baut. Segala sesuatu yang besar pasti dimulai dengan tindakan kecil. Namun, sekecil apapun tindakan tersebut, seseorang harus tetap berpikir besar. Cerita ini sering dipakai namun analogi tentang kuli bangunan adalah sesuatu yang sangat mudah dijadikan bahan rujukan. Suatu hari, tiga orang kuli bangunan ditanyakan oleh mandor tentang apa yang mereka kerjakan. Kuli pertama menjawab bahwa dia sedang mengaduk semen. Kemudian, mandor bertanya kepada kuli kedua yang berkata,” saya sedang memasang fondasi gedung ini”. Sang mandor kemudian bertanya kepada kuli ke tiga tentang apa yang sedang ia kerjakan sedangkan kuli ke tiga tersebut terlihat sangat antusias. Dijawab oleh kuli ketiga,”Tidakkah bapak lihat, saya sedang membuat sebuah kompleks perumahan megah yang nanti akan dinikmati oleh keluarga yang membutuhkan kenyamanan dan fasilitas yang lengkap? Ini akan menjadi sebuah karya besar yang akan menjadi sejarah indah bagi orang-orang yang kelak akan tinggal disini!” Apa perbedaannya? Ketiganya sama-sama kuli, namun tidak semua kuli tersebut membiarkan pikirannya sekasar kuli sehingga sangat sulit untuk berpikir besar.

Sekecil apapun tindakanmu, lakukanlah dengan penuh gairah dan semangat. Ketika semangat itu tidak muncul, buatlah, berpura-puralah! Otak tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi dalam pikiran. Bertindaklah seolah-olah kamu adalah orang paling bahagia di muka bumi ini. Sebarkan semangat dan keceriaan kepada siapapun baik itu orang yang kamu kenal ataupun tidak. Toh tidak ada gunanya mengeluh di pagi hari, mau tidak mau kamu tetap harus bangun bukan? Lebih bijaksana lagi kalau waktu yang kamu gunakan untuk mengeluh itu digunakan untuk bersyukur tentang pagi yang masih diberikan oleh Tuhan bagi kita sehingga masih dapat menghirup udara segar. Memulai pagi dengan pikiran yang baik berarti membiarkan hari kita berjalan dengan menyenangkan!

Iklan

Bangsa Air Hujan

Salah satu momen yang membuat saya gembira adalah pada saat rintik hujan mulai terdengar masuk ke dalam gendang telingsaya dan bau semerbak tanah yang tergerus oleh air menggelitik hidung. Hujan tidak hanya sebuah peristiwa alam yang disebabkan penuhnya awan menampung evaporasi air yang kemudian ditiupkan kembali oleh angin ke bumi. Siklus alamiah ini turut serta membawa segudang pelajaran hidup. Namun, betapa banyak manusia, yang mungkin saya adalah salah satunya, yang tidak sadar betapa nikmat telah diturunkan ke bumi dengan keluhan-keluhan dan umpatan yang tidak pantas terhadap hujan.

Hujan merupakan salah satu sumber air yang paling baik untuk makhluk hidup ataupun untuk kehidupan. Tingkat kebersihan dan kemurnian air hujan relatif cukup tinggi karena air hujan tidak membawa bahan kimia. Tahukah anda bahwa air hujan justru menyerap polusi, debu, dan kotoran yang bertebaran di udara yang kemudian dibawa masuk ke dalam tanah dan tidak akan membahayakan manusia? Air hujan juga merupakan salah satu alternatif paling baik untuk tanaman atau bahkan untuk mencuci mobil. Walaupun tidak dapat digunakan untuk minum tanpa diolah, air hujan mutlak dibutuhkan oleh manusia.

Selain manfaat secara ilmiah, hujan dapat digunakan sebagai pelajaran hidup bagi manusia yang peka. Pernahkah anda melihat hujan turun hanya satu atau dua tetes saja? Tidak akan, karena hujan pasti turun secara bersamaan. Kumpulan tetesan air yang turun akan membasahi bumi dibawahnya dan memberikan manfaat disana. Apakah hal yang sama akan terjadi apabila air hujan hanya satu atau dua tetes? Bahkan untuk dapat membasahi baju yang anda pakai saja saya ragu.

Adakah air hujan pernah peduli mengenai darimanakah asal mereka? Saya yakin kumpulan air tersebut tidak berasal dari tempat yang sama. Namun, tanpa banyak bertanya mereka berkumpul di satu tempat sebelum terjadi evaporasi yang dinamakan laut. Tidak peduli darimana mereka berasal, mereka menguap dan mendarat di awan. Setelah berkumpul, angin kemudian meniup mereka kembali ke bumi. Tujuan mereka hanya satu, yakni memberi manfaat di tempat mereka akan berpijak kembali.

Mengapa konsepsi hujan tidak dapat diterapkan di kehidupan manusia? Indonesia, tanah air tercinta saya contohnya, selalu menjadikan daerah, suku, etnis, atau bahasa sebagai alasan untuk bertikai. Dengan kapasitas penduduk lebih dari 240 juta jiwa, ada dua kemungkinan dalam lingkup besar yang mungkin terjadi. Hancur atau melebur. Kehancuran akan terjadi apabila tidak lagi ada rasa saling memiliki sebuah negara dikarenakan egoisme yang bermuara pada chauvinism atas masing-masing daerah. Sebaliknya, bayangkan yang terjadi apabila kemajemukan Indonesia ini dapat diabaikan dalam konteks pembangunan dan melebur menjadi satu. Apa yang akan dicapai Indonesia di kancah dunia dengan kekayaan melimpah baik sumber daya manusia maupun sumber daya alamnya? Luar biasa banyak!

Saya tidak akan banyak membahas sisi detail bangsa tercinta yang masing-masing individu yang mengaku bertanah air Indonesia seharusnya tahu dan peduli. Penekanan saya disini adalah, kenapa kita tidak bisa bersikap masa bodoh dan bertindak layaknya air hujan yang memberikan manfaat bagi bumi dengan persatuannya? Saya yakin suatu saat akan muncul masa dimana bangsa Indonesia sudah muak dengan segala konflik internal yang ada dan bersatu membenahi pemerintahan negara ini. Indonesia kelak akan muncul sebagai negara besar yang mempunyai wibawa dan kuasa di mata dunia. Wibawa untuk mempersatukan dan kuasa untuk membantu sesama. Indonesia akan menjadi negara “air hujan” yang siap bersatu untuk memberikan manfaat baik bagi rakyatnya maupun dunia internasional. Sedikit pemikiran konyol ini hanyalah aplikasi dari pernyataan Rene Descartes yaitu Cogito Ergo Sum, Saya berpikir maka Saya ada. Marilah kita menjadi bangsa pemikir, walaupun kecil, daripada tidak sama sekali.

howling

i ever thought that i would never figure it out
the shadow which walked upon reality
fogging the truth in the blackout
and turned daredevil into chicken

i ever thought i wasn't going to make it
things always seemed so blur
when hopes drove away 
and despair was a friend

it was foolishness
to let the ambition begone
to please the sorrow come by

no time anymore
to be tight minded
miscarriage is going to be annihilated
as the time kills everything
which decide to stop

i will keep throwing hopes
to the sky
where no one could take it 
even myself

the only choices are
live to make it
or die to strive for it

Deklarasi Perang vs Kemunafikan

Menjaga komitmen merupakan penyiksaan lahir maupun batin. Pengikatan hati manusia atas sesuatu baik terpaksa maupun terjadi secara alami berarti tantangan perang bagi nafsu manusia. Sesuatu yang timbul atas keterpaksaan pasti akan menimbulkan emosi yang jika tidak ditekan maka akan meledak. Berkomitmen berarti memutuskan untuk mengikatkan diri pada sesuatu yang nyata ataupun tidak nyata dalam jangka waktu yang relatif lama, bahkan mungkin selamanya. Namun, perlu disadari bahwa komitmen tidak hanya omong kosong, melainkan proses pembentukan manusia dari sampah menjadi harta berlimpah.

Talk more do less. Itulah yang seringkali saya alami baik di kalangan teman-teman saya maupun orang-orang yang sering saya temui. Banyak orang memberi nasihat selihai seorang Mario Teguh. Merangkai kata seperti harta berlapis platina. Harta yang ketika ditimbang ternyata tak berharga. Kemunafikan merajalela dan merantai di antara para manusia. Termasuk saya. Bahwa saya pernah dan masih melakukan kemunafikan. Anugrah dari Tuhan yang diciptakan dengan bentuk paling sempurna namun disiakan dengan pikiran keterbatasan. Ketika bibir bergelut dengan otak. Dimulailah perang kemunafikan.

Kerap kali saya menemukan diri saya tersadar dalam perasaan dosa. Ribuan kali mulut mengucapkan janji untuk melakukan a, b, c, d dan seterusnya. Sayangnya, kerjasama solid 100 milyar neuron selalu mampu menemukan alasan untuk menemukan huruf z. Waktu memang mampu menghapus jejak janji-janji palsu, tapi nurani tak pernah bisa dibohongi. Perasaan hina menghampiri. Kehina-dinaan akibat  jatuh tersungkur di hadapan janji. Janji yang tak pernah tertepati. Sekecil apapun janji itu, walaupun terhadap diri sendiri, bagi saya akan selalu timbul perasaan dosa ketika lalai. Entah kapan namun pasti.

Tulisan ini adalah manifestasi dari janji. Entah akan menambah panjang daftar janji-janji gagal atau akan menjadi rise of the accomplished promise, hanya Tuhan yang tahu. Satu tulisan setiap harinya. Sesibuk apapun sehingga badan tak mau lagi kompromi, tetap bukan alasan untuk mundur teratur. Ketika saya berhenti atau menunda sehari saja, saya gagal. Mission failed. Missione fallita. Itu juga berarti bahwa saya cukup pantas untuk dianggap sebagai penipu. Je suis un menteur.

Membuat janji berarti saya menantang diri saya sendiri. Mendeklarasikan perang terhadap hawa nafsu. Membelenggu 100 milyar neuron untuk bergerak sesuai perintah. My hardest enemy is myself, but if i can rule this wild side, nothing can defeat me. Sebuah pernyataan berlebihan yang tidak berlaku untuk Tuhan. Ini berarti bahwa saat ini saya adalah seorang joki rodeo yang tengah berusaha mengendalikan kuda liar. Pilihannya hanya dua. Jinak atau mati. Tidak akan pernah seorang manusia merasakan sakit selamanya. Bahkan sabetan pedang dalam perang akan sembuh dengan sendirinya dan bekasnya dapat menimbulkan rasa bangga bagi pemiliknya. Perih tak selalu berakhir perih, tapi apakah saya dapat merasakan manis? Try me!

Pendidikan Tinggi yang Rendah

Masyarakat Indonesia masih memandang pendidikan di institusi negeri dan swasta, khususnya perguruan tinggi, sebagai anak emas dan anak tiri. Status ‘wah’ bagi negeri dan sedikit memicingkan mata bagi swasta menjadi pemandangan biasa. Secara kualitas, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dianggap lebih mampu memunculkan generasi-generasi unggul dengan input yang unggul. Secara kuantitas, PTN menampung jumlah anak didik yang terbatas dan dibatasi dengan seleksi yang cukup ketat. Hal yang sebaliknya terjadi pada kebanyakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Persepsi yang terlanjur melekat di masyarakat ini kian menjadi gap bagi keduanya.

Kualitas menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk memilih PTN sebagai pilihan tunggal. PTS menjadi alternatif terakhir sebagai tempat untuk meneruskan pendidikan. Di sektor pendidikan tinggi, perbedaan institusi negeri dan swasta saja berbanding sekitar 1 : 25. Pada kenyataannya, PTN ternama seperti UGM, ITB, dan UI selalu menjadi yang pertama di lembar kertas pilihan perguruan tinggi para siswa kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA). Sejarah dari deretan PTN yang terbukti memang mampu menghasilkan manusia-manusia unggul selalu menjadi alasan para orangtua untuk menyekolahkan anaknya disana.

Input yang unggul tentu berasal dari bibit yang tidak kalah unggul. Setiap tahunnya, para siswa kelas 3 SMA memperebutkan kursi untuk masuk ke deretan PTN ternama dan bersaing dengan ratusan peminat yang sama. Tidak jarang ketika pengumuman penerimaan PTN, terdengar isak tangis dari pendaftar yang tidak diterima di perguruan tinggi yang diinginkan. Hukum rimba menjadi the only rule di dalam persaingan ketat ini.

Memang benar bahwa PTS berisi mahasiswa yang sebagian besar masuk karena gagal mendaftar di PTN. Masyarakat menganggap bahwa PTS hanya berisi orang-orang buangan dan tidak cerdas. Banyaknya PTS dianggap hanya sebagai tempat menampung banyak orang yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dengan modal kecerdasan yang minim. Jumlah mahasiswa yang ditampung PTS yang terbilang cukup tinggi namun jarang menghasilkan prestasi semakin menonjolkan sentimen negatif masyarakat umum.

Saya sendiri membuktikan opini tentang gap ini dengan pengamatan dari berbagai situasi. Ketika orangtua saya memperkenalkan saya kepada teman atau saudara tentang masalah tempat belajar, saya selalu mendapat reaksi yang biasa-biasa saja. Ini wajar karena saya tidak diterima di PTN dan hanya belajar di salah satu PTS di Indonesia. Namun ketika memperkenalkan kakak saya, terlihat jelas raut muka gembira karena memang kakak saya menempuh pendidikan di PTN terkemuka. Kasus yang paling sering saya alami ketika saya mendengar orang lain menanyakan tempat kakak saya kuliah dan kemudian kakak saya menyebutkan nama perguruan tinggi, hampir selalu dijawab dengan, “wah kakakmu pasti pintar”. Ketika saya menjawab,  tanggapan yang saya dapat hanya sekedar kata-kata yang dianggap dapat membesarkan hati saya.

Tulisan ini bukan wujud rasa sakit hati, melainkan keprihatinan. Saya sendiri sadar bahwa saya memang tidak pantas untuk masuk PTN. Saya sadar ketika rekan-rekan saya berusaha keras, saya tidak berusaha sekeras mereka. I’m still thinking until now that it’s just the law of causality effect. Fokus saya adalah tentang esensi pendidikan. Tujuan institusi pendidikan tentu saja mencetak generasi untuk memajukan bangsa. Namun, apabila sikap pihak yang berwenang masih berat sebelah, masihkah tujuan mulia tersebut dapat dicapai?

Saya hanya membayangkan nasib ribuan PTS yang ada di Indonesia. Memang tidak semua PTS dipandang sebelah mata, bahkan ada yang mampu bahkan mengungguli PTN. Namun, tentu saja pemerintah masih memiliki kewajiban untuk membimbing PTS agar terjadi equilibrium antara jumlah dan kualitas. Entah itu melalui merger gabungan PTS kecil, suplai tenaga pendidik yang berkualitas, ataupun fasilitas yang memadai. Pada dasarnya swasta memang dikelola oleh umum dan pemerintah tidak mempunyai kewajiban penuh terhadapnya. Tapi, apa salahnya sedikit pengorbanan untuk mendapatkan hasil ke depan berupa pendidikan setara yang dapat dinikmati semua kalangan. Bukankah pemuncak Ivy League di Amerika Serikat, Harvard University, merupakan private institusion? Bukankah input yang kurang baik tidak selalu menghasilkan output yang cacat?

Harapan saya hanyalah masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Saya seorang mahasiswa PTS dan saya bangga. Impian saya adalah ketika pendidikan di Indonesia merata secara kualitas. Tentu Indonesia akan memiliki ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan generasi penerus yang sangat berkualitas. Bersaing dengan negara maju bukan angan-angan, melainkan mimpi yang mendekati kenyataan. Saya cinta negeri saya dan saya memiliki harapan dapat berkontribusi melalui bidang saya dan apa saja yang dapat saya usahakan.

(E)Mosi Tidak Percaya

Tua itu pasti, tapi dewasa adalah sebuah pilihan. Kata-kata tersebut selalu terngiang di kepala saya. Bagaimana tidak, di tengah kegemaran orang mencaci banyak abg dengan kata labil, termasuk saya sesekali, saya sendiri menyadari bahwa saya masih dalam fase instabilitas alias labil. Sangat kontradiktif. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan dewasa sebagai matang baik dalam pikiran, tindakan, ataupun sikap. Tua sendiri berarti sudah lama hidup. Sesuai dengan definisinya. Saya memang sudah cukup lama hidup. Seperlima abad kurang sedikit. Namun saya belum bisa merasakan esensi layaknya seseorang yang seharusnya sudah menghirup udara segar selama seperlima abad.

Tulisan ini adalah ajang balas dendam atas segala keterbatasan saya.  Tumpahan emosi yang membuncah di kepala. Pelepasan energi negatif yang membutuhkan ruang untuk bergerak dan mengalir. Pelampiasan masih “mentah”nya saya sebagai individu. Mengisi lembar putih kosong seperti ini jauh lebih menarik daripada menjadi racun psikis. Seandainya ini bisa berwujud, mungkin wujudnya menyerupai monster besar bertanduk dua dengan gigi menyeringai kejam seperti yang sering menjadi imajinasi bodoh saya semasa kecil.

Sebuah kepuasan tersendiri dapat mengkonversi pikiran jahat menjadi coretan. Pemikiran yang serba abstrak disini sudah cukup menjadi manifestasi kelemahan mental saya yang masih perlu banyak gojlokan dari dunia. Tidak peduli seberapa lama saya hidup, jika kesalahan tidak selalu diiringi dengan koreksi, saya pikir tulisan seperti ini akan terus menerus mengalir. Namun saya masih merasa jauh lebih berharga daripada saya harus membanting harga diri saya dengan mengeluh kepada facebook. Sesuatu yang tidak akan menjawab satupun permasalahan kecuali hasrat untuk diperhatikan.

With theories, practice makes perfect, but without it, sounds like bullshit. Ada sebuah korelasi antara sikap praktis dan teoritis. Seorang teoritis yang berlebihan akan melahirkan pakar-pakar seperti di Indonesia. Much talk with no action. Praktek tanpa teori akan menghasilkan kuli bangunan. Strong but no vision of future. Sudah sangat melenceng dari topik bahasan sampah saya. Saya tidak peduli toh ini tulisan-tulisan saya. Hanya saja ini menjadi koreksi saya supaya tidak membabi buta dalam menangani emosi, tapi juga tidak terlalu banyak dipikir sehingga menjadi duri dalam daging. Paham tak paham itu urusan anda, bukan saya.

Memulai Babak Kebodohan Baru

Menuangkan pikiran kedalam tulisan bukan merupakan hal mudah bagi kebanyakan orang. Saya adalah satu dari kebanyakan orang tersebut. Menulis merupakan kegiatan yang menjemukan bahkan kadang menjengkelkan. Pemikiran seperti itulah yang kadang numpang lewat di dalam benak orang-orang yang tidak biasa menulis, termasuk saya. Kegiatan tulis menulis yang bagi seorang master dianggap sebagai sebuah voyage, bagi saya dapat menjadi satu langkah maju menuju frustasi.

Status mahasiswa yang terlanjur saya sandang mengharuskan saya untuk mempunyai sedikit keahlian untuk menulis. Sesuatu yang menurut saya tidak pernah ada dalam diri saya. Menjadi seorang dengan gelar mahasiswa (calon) S1, terlebih lagi dengan studi di bidang sosial, memaksa saya untuk menjadi penulis. Dosen di kampus saya pun memiliki kegemaran dalam bersedekah, hanya saja dalam hal bersedekah tugas terhadap mahasiswanya. Tidur bukan lagi menjadi kebutuhan, melainkan hasrat tak tersampaikan. Mata merah karena iritasi ringan? Bukan zamannya lagi. Mata merah adalah karena krisis waktu tidur dan kesedihan melihat gunungan what-to-do.

                Bagi kebanyakan mahasiswa, alternatif untuk mengakali kelemahan menulis adalah patent mr.google’s invention as their copyright alias ctrl + c kemudian ctrl + v. Ide yang cukup jenius menurut saya mengingat mas google yang suka mengumbar-umbar tanpa mempedulikan FPI. Namun saya adalah tipikal mahasiswa bodoh yang tidak mungkin dipercaya dosen jika tulisan saya seindah yang ditampilkan mas google. Apalagi mengingat kembali skill menulis saya yang minimalis. Terkadang saya berpikir apakah saya akan menjadi para mapala (mahasiswa paling lama) yang kuliah hingga bertahun-tahun karena kemampuan menulis saya. Kemudian saya akan menjadi kerasan di kampus hingga mungkin enggan meninggalkan kampus. Ngeri rasanya membayangkannya. Apakah saya akan menikah di kampus?

Inilah awal perkenalan kembali saya dengan otak menulis saya setelah sekian lama karena masing-masing sibuk dengan tradisi mudik mengingat hari raya idul fitri yang belum lama lewat. Saya berharap otak menulis saya tidak melupakan saya sepenuhnya melihat jadwal libur saya yang hampir selesai. Jika memang dia telah meninggalkan saya karena kebodohan saya dalam memanfaatkannya, sekiranya saya bisa meminta maaf lahir dan batin karena masih dalam suasana bulan syawal. Jangan sampai kami bertukar paham hingga membenci satu sama lain. Bisa jadi status semula saya sebagai mahasiswa berubah wujud menjadi tahanan rumah sakit jiwa tanpa dia. Ah berlebihan memang, tapi itulah adanya, tidak saya lebih-lebihkan.

Tujuan tulisan ini hanya menyambung silaturahim dengan otak saya. Ada yang membaca atau tidak, saya tidak peduli. Justru saya bersyukur apabila tidak ada yang membaca mengingat writing disability saya. Dengan ini, saya menyatakan bahwa hubungan antara saya dengan otak menulis saya sudah kembali normal. Iklan Pertamina berkata “kembali ke 0 ya Pak”. Asal jangan kemampuan saya yang 0. Kebodohan saya mengharuskan saya untuk terus menerus berlatih menulis dan dimulai dengan ini. Sekalipun saya tidak menjadi seorang profesional dalam menulis, setidak-tidaknya saya tidak terlunta-lunta di bangku perkuliahan.

Makhluk Paling Sempurna

Dengan menyebut nama-Mu yang masih memberikan nafas, kekuatan, daya pikiran, untuk sedikit mencurahkan pemikiran-pemikiran polos dan telanjang ini. Sungguh tiada lagi jiwa dan raga ini akan bertahan di dalam dunia penuh ketidakpastian ini, melainkan karena keyakinan yang kuat dimana akan datang masa penuh kehancuran yang akan meluluhlantakan bumi beserta isinya. Masa dimana manusia yang merasa kuat akan menjadi lemah, yang semula sombong akhirnya gemetar memikirkan nasibnya, yang suka menganiaya akan merasakan bagaimana dianiaya, bahkan orang baikpun akan gentar karenanya. Ini bukanlah esai mengenai agama meskipun Aku mencantumkan Tuhanku di dalamnya, yang tidak lain karena besarnya rasa takutku terhadap-Nya.

Manusia adalah makhluk paling sempurna dan kompleks dengan berbagai atributnya. Bobrok, rusak, busuk, bahkan bau bangkai tercium di antara wewangian penuh tipu muslihat. Benar dan salah, apakah 2 kata ini masih ada? Tentu saja masih, namun manusia tidak peduli benar atau salah, selama apa yang mereka inginkan tercapai. Ilmu psikologi menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki hati nurani yang akan merasa janggal ketika melakukan hal yang tidak semestinya. Namun, apakah fenomena manusia saat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki hati nurani? Ataukah mereka sudah mengoperasi badannya untuk mengambil organ hati nuraninya yang kemudian mereka buang? Sungguh menarik polah tingkah dan perilaku manusia saat ini, terlalu menarik hingga sulit dibedakan dengan binatang.

Pernahkah terpikirkan dalam benak manusia ketika matahari menyapa sehabis fajar, apa yang sebenernya Dia inginkan atas kehadiran mereka? “Setiap manusia lahir karena suatu alasan” bukanlah sebuah kalimat klise yang tanpa arti. Mungkin benar adanya bahwa setiap manusia memang dilahirkan karena mereka memiliki tugas di muka bumi ini. Lalu apa tugas mereka? Diantaranya adalah menginjakkan kaki di kepala manusia yang lain agar dapat mencapai puncak, melakukan tipu muslihat asalkan kekuasaan berada dalam genggaman, atau mungkin membunuh manusia lain yang mengganggu. Saya tidak tahu apakah benar begitu adanya, karena salah atau benar, hanyalah problem tentang norma, yang bahkan saya sendiri tidak tahu apakah norma itu ada, atau hanya lips service.

Entahlah, dalam kepercayaan yang saya anut, memang akan tiba saatnya bahwa umat manusia akan menjadi kacau balau dan menuju kehancuran, sebelum tiba saatnya kedamaian akan tercipta, dan ending dari semua itu adalah kehancuran alam semesta. Seperti negeri dongeng bukan? Tapi, jika manusia bisa mati, basah bisa menjadi kering, panas menjadi dingin, bersih menjadi berdebu, kenapa bumi tidak bisa hancur? Bukankah setiap benda adalah kumpulan dari materi, dan setiap materi bergerak dari garis edar kehidupan pertama menuju kematian? Sungguh amat bodoh para ilmuwan yang mengaku berpendidikan namun masih mencari cara untuk menciptakan manusia, dimana mereka berusaha menyamai kemampuan Penciptanya.

Dalam doa saya, sungguh saya memohon agar diberikan kelapangan hati, kelapangan pikiran, kemampuan untuk berlaku baik dan benar, perlindungan serta ampunan kepada manusia yang masih memiliki hati, kepada Sang Maha Pencipta, yang kuasa-Nya sungguh tidak terkira.

Negeri Impian

Aku berdiri di sebuah negeri nan megah dan gagah, dimana di negeri ini, semua bisa aku dapatkan. Dunia sepakat menyebut tanah pijakanku ini dengan nama “Indonesia”. Malanglah siapapun yang tidak tahu tentang Indonesia, karena di tempat ini, apapun yang engkau mau, dapat engkau dapatkan. Harta melimpah, kekuasaan puncak, popularitas, kedigdayaan, atau status sosial paling tinggi sekalipun, dapat diperoleh di negeriku ini. Syarat? tentu saja ada, di dunia ini, mana ada sesuatu yang dapat diperoleh dengan cuma-cuma, bahkan mungkin beberapa tahun kedepan kentut pun harus bayar, berhati-hatilah.

Tenang saja, syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan semua kenikmatan itu sangat mudah. Cukup dengan berbicara, terlebih lagi kalau bisa membuat orang yang kau ajak bicara tertarik dengan buaianmu, urusan benar salahnya omonganmu, pikir saja belakangan. Engkau juga harus pintar, bukan pintar dalam sebuah subjek kenegaraan atau bidang apapun, cukup pintar berkelit. Kalau kau sudah merasa dirimu selicin belut, kau akan aman tenteram hingga akhir hayat. Apakah kau merasa pandai merayu? Bukan hanya merayu gadis,  saudaraku, cukup kau rayu dan kau jilat saja orang yang berkuasa, ikuti saja aturan permainannya, tak lama kau akan turut pula menapaki tangga kekuasaanmu sendiri.

Oh, kau merasa tidak punya kemampuan itu? Tapi bukankah kau punya uang? Tenang saja saudaraku, selama kau punya uang, bisa kau gunakan untuk berinvestasi disini. Tidak perlu sekolah bisnis disini bung untuk dapat pandai berinvestasi, bahkan ga bisa mendapatkan gelar bisnis hingga doktoral, bahkan mungkin profesor tanpa perlu belajar tekun atau kerja keras. Cukup kau gunakan uangmu untuk para penjual jasa, sertifikat pun akan kau dapat segera. Kalau kau ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini, cukup daftarkan dirimu di partai politik, kemudian bagikan uangmu untuk orang-orang dan tunggu saja waktunya. Cukup mudah bukan?

Kau takut uangmu tak akan kembali? Jangan gundah wahai sahabatku, ketika kau sudah menapak tangga kekuasaan, jangankan uang, rumah mewah, mobil import, tanah, bahkan pengikutmu akan hadir dengan sendirinya. Rakyatmu akan memberikanmu uang yang rutin mereka bayarkan. Ambil dan gunakan uang-uang itu untuk memperbesar kekuasaan dan kekayaanmu. Toh mereka juga memberikan upeti kepadamu karena engkau dianggap raja oleh mereka. Ambil saja semuanya, jangan sisakan sepeser pun.

Ada apa sahabat? Kau takut dengan saranku ini? Apakah kau belum tau mereka yang duduk di bangku kekuasaan negeriku tercinta ini? Jangankan takut, dengan senang hati mereka menyebarkan uangnya bagaikan pesta untuk para rakyatnya, yang kemudian akan membuatnya kokoh bak gunung di puncak. Tenang saja, uangmu akan kembali dengan segera seperti para penguasa itu. Mereka mendapat upeti-upeti yang dibayarkan oleh lebih dari 240 juta penduduk negeriku, hingga seolah kekayaan mereka melimpah dan tak ada habisnya seperti lautan. Kau takut diadili? Hey kawanku, maka dari itu, segeralah bawa harta bendamu ke negeriku ini. Jangankan diadili, bahkan mereka dengan bebasnya melenggang kesana kemari ke seantero dunia, dengan uang-uang hasil pungutan upeti. Bahkan orang-orang yang mengaku rakyatnya rela memilih mereka walaupun harus kesusahan tanpa harta benda apapun, mengharapkan pertolongan para penguasa itu. Tidak maukah kamu di elu-elukan banyak orang? Nyatanya mereka masih dapat menikmati kebebasan tanpa diadili oleh siapapun. Apalagi yang kau takutkan?

Tapi kawanku, tolong, ketika nanti engkau sudah mendapatkan kekuasaanmu dan membangun dinastimu, jangan lupakan aku. Tidak, aku tidak akan menyentuh sedikitpun hartamu. Aku hanya menginginkan satu permintaan. Tolong kelak kau bangunkan aku dari mimpiku, karena kupikir ini semua hanya mimpi. Mana mungkin mendapatkan semuanya semudah ini, pasti ini hanyalah buaian bunga-bunga tidur. Kalau diriku tak kunjung bangun, tolong tembak kepalaku. Terima kasih kawan.

Be Grateful of What You Have in Life

Ketika kita memakan sesuatu disini, belum tentu saudara-saudara kita di belahan dunia yang lain memakan makanan sebaik yang kita makan, atau justru mereka malah belum makan sama sekali. Ketika kita bisa mandi dengan enaknya,byar byur byar byur, belum tentu teman kita di ujung dunia sana bisa membuang air semudah yang kita buang, atau bahkan untuk minum saja susah.

Yang aneh disini, seringkali kita ( atau bahkan saya sendiri ) seringkali mengeluhkan kalau makanannya tidak sesuai dengan yang kita inginkan, mengeluhkan internet yang lemot, mengeluhkan panas dan teriknya hari, mengeluhkan pelajaran yang membosankan. Seolah-olah tidak ada hal di dunia ini yang tidak kita keluhkan.

Hmm, kalau hanya dilihat dari sudut pandang satu sisi, itu hal yang wajar, mungkin karena kita terlalu banyak melihat yang di atas. Melihat apapun yang lebih dari kita sehingga apapun yang kita dapat selalu terasa kurang. Tapi coba bayangkan, bagaimana saudara kita di banyak negara-negara miskin di belahan negara afrika sana, yang menggunakan kencing binatang untuk membasahi rambut, yang memakan sisa-sisa makanan di sepanjang jalan yang bisa mereka pungut. Bagi yang beragama muslim, sangat sering kita mengeluh untuk melakukan sholat, yang hanya 5x sehari yang per sholatnya tidak lebih dari 5 menit atau meluangkan 25 menit sehari, atau mengeluhkan tentang bosannya belajar di kelas. Tengoklah saudara-saudara kita di Palestina, mereka berjuang mati-matian hanya untuk bisa melakukan sholat jama’ah di masjid, dan mereka harus menyabung nyawa hanya untuk bisa merasakan bagaimana sekolah dan belajar yang hanya beberapa jam !

Dalam dunia ini, ada yang namanya Law Of Attraction, sebuah hukum dimana sesuatu akan menarik sesuatu yang sejenis. Ketika kita mengeluhkan tentang sesuatu, bisa dipastikan hari itu akan berakhir dengan penuh keluhan kita. Sebaliknya pula, jika kita mengawali hari itu dengan senyum lebar mengembang, walaupun seburuk apapun keadaannya, hari itu akan berakhir bahagia karena kebahagiaan akan menarik kebahagiaan lainnya.

Syukur, S. Y. U. K. U. R. 6 huruf yang sangat mudah dibaca tapi sangat sulit untuk dipraktekkan. Dont always look above, sometimes we must spend our time to look how our brothers and sisters in some other parts of the world stay struggling to exist in this evil world. Sama sekali tidak ada ruginya untuk selalu melihat kebawah, karena dengan melihat kebawah, semangat kita untuk melakukan sesuatu, entah itu dalam hal pendidikan, pekerjaan, atau motivasi untuk terus maju. Apalagi kalo ada yang bercita-cita menjadi orang yang ingin ikut berkontribusi untuk melakukan perubahan. Sungguh sangat mulia. Life isn’t only ours, we must share what we have with others. Dengan itu maka kita akan merasakan bahagianya hidup.

Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat, meskipun itu kecil, meskipun itu membosankan, meskipun itu terlalu sering. Hargai apa yang kita miliki sebelum kita menyesal, karena penyesalan selalu datang di akhir.

Once we learn to be grateful everytime, it also means that we learn to live with soul. Because every man die, but not every man really lives.